Hari itu, tepat pukul 11.00 WITA, kami berangkat dari Larantuka menggunakan kapal KM. Kodi Dore. Perjalanan kami bukanlah perjalanan biasa, melainkan perjalanan penuh empati menuju Desa Nuhalolon, Kecamatan Solor Barat, untuk melayat dan mengikuti acara penguburan ayahanda dari sahabat kami, Petronela Perada Keray.
Dari Larantuka, kami harus menyeberang menuju Pulau Solor menggunakan kapal kayu selama kurang lebih satu jam. Laut yang kami lintasi terasa tenang, namun hati kami dipenuhi rasa haru. Setibanya di Pelabuhan Pamakayo, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat sekitar 20 menit hingga tiba di Desa Nuhalolon.
Kami hadir atas nama Alumni STPP Malang asal Flores Timur, bergabung bersama rekan-rekan Penyuluh Pertanian Kecamatan Solor Barat serta penyuluh dari kecamatan lainnya. Kehadiran kami adalah bentuk solidaritas dan kebersamaan sebagai satu keluarga besar—bukan hanya sesama alumni, tetapi juga sesama sahabat dalam pengabdian.
Petronela Perada Keray, yang juga merupakan alumni STPP Malang, tampak begitu sedih dan terpukul atas kepergian ayahanda tercinta. Kehilangan seorang ayah adalah kehilangan yang sangat mendalam. Dalam suasana duka itu, kami berusaha hadir untuk memberikan dukungan moril, meski kami tahu tak ada kata yang benar-benar mampu menghapus rasa kehilangan tersebut.
Sekitar pukul 15.30, saya bersama istri dan Ibu Lilin harus berpamitan lebih dahulu. Perjalanan pulang masih panjang dan kami bertiga sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Kami perlu kembali lebih awal agar dapat mempersiapkan diri menyambut waktu berbuka.
Berat rasanya meninggalkan lokasi sebelum prosesi penguburan selesai. Namun dalam perjalanan pulang, doa-doa terus kami panjatkan agar almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.
Perjalanan menyeberangi laut hari itu menjadi pengingat bahwa dalam kehidupan, kita semua saling terhubung. Dalam duka sahabat, ada kewajiban hati untuk hadir. Karena sejatinya, kebersamaan dalam kesedihan adalah bentuk persaudaraan yang paling nyata.
By Aldy Forester.







- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact