Hari ini, tepat 19 tahun yang lalu, Allah menghadirkan seorang bayi perempuan ke dalam pelukan kami. Tangis pertamamu adalah suara paling indah yang pernah kami dengar. Sejak saat itu, hidup Ayah dan Ibu tak pernah sama lagi—lebih penuh cinta, lebih penuh harapan, dan lebih penuh doa.
Rizqyah Forestryani… putri sulung kami.
Qya, panggilan hangat yang selalu membuat rumah terasa hidup.
Nak, hari ini engkau genap 19 tahun. Usia yang tidak lagi kecil, namun juga masih dalam perjalanan panjang menuju kedewasaan. Kini engkau sedang menempuh pendidikan di Politeknik Pembangunan Pertanian Malang, mengejar cita-cita dan masa depanmu. Di hari bahagiamu ini, jarak memisahkan kita. Rumah terasa lebih sunyi tanpa tawa dan ceritamu. Namun percayalah, meski raga kita berjauhan, doa Ayah dan Ibu tak pernah berjarak.
Kami bangga padamu, Nak.
Bangga atas langkah beranimu merantau, bangga atas tekad dan kesungguhanmu menuntut ilmu. Tidak mudah menjadi anak sulung—menjadi contoh bagi adik-adik, menjadi harapan, sekaligus menjadi kekuatan dalam keluarga. Tapi Qya telah menjalani semuanya dengan ketulusan.
Di hari ulang tahunmu yang ke-19 ini, izinkan Ayah dan Ibu menengadahkan tangan, memohon kepada Allah SWT :
Qya, adik-adikmu di rumah juga menyebut namamu hari ini dengan penuh rindu. Mereka bangga memiliki kakak sepertimu. Mereka belajar tentang ketekunan, tanggung jawab, dan mimpi dari sosok kakaknya. Mereka mendoakan agar Kak Qya selalu diberi kemudahan, dijauhkan dari kesedihan, dan dikelilingi oleh orang-orang baik di perantauan.
Ya Allah,
Panjangkanlah umur putri kami dalam keberkahan.
Sehatkanlah jasmani dan rohaninya.
Lapangkan hatinya dalam menghadapi setiap ujian.
Terangi langkahnya dalam menuntut ilmu.
Jadikan ia anak yang shalihah, kuat, mandiri,
dan kelak menjadi perempuan yang bermanfaat bagi agama, keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Nak, 19 tahun bukan sekadar angka. Ia adalah perjalanan tentang tumbuh, tentang jatuh dan bangkit, tentang belajar menjadi dewasa. Jangan pernah takut bermimpi besar. Jangan pernah lelah berusaha. Dan jangan pernah lupa bahwa di rumah ini selalu ada Ayah, Ibu, dan adik-adik yang menunggu dengan doa yang tak pernah putus.
Walau hari ini kami tidak bisa memelukmu secara langsung, pelukan doa kami lebih erat dari apa pun. Semoga suatu hari nanti, ketika engkau membaca tulisan ini, engkau tahu bahwa di setiap detik hidupmu, ada cinta yang tak pernah berkurang—bahkan semakin bertambah seiring usiamu.
Selamat ulang tahun ke-19, putri sulung kebanggaan kami.
Teruslah menjadi cahaya, Qya.
Dengan penuh cinta dan syukur,
Ayah, Ibu, dan adik-adikmu 🤍



Tidak ada komentar:
Posting Komentar