Senin, 16 Februari 2026

Di Antara Infus dan Doa: Kisah Kecil JunJun yang Menguatkan

Tadi malam 15 Pebruari 2026, tengah malam itu terasa begitu panjang. Jarum jam tepat menunjuk pukul 24.00 ketika kami memutuskan membawa si bungsu kami, JunJun, ke Poliklinik St. Theresia, Tabali, Larantuka. Sejam sebelumnya dalam keadaan tidur lelap, tiba-tiba dia mengalami muntah dan mencret, dan perlahan tubuh kecilnya mulai tampak lemas. Tatapannya redup, tidak seceria biasanya. Sebagai orang tua, tidak ada rasa yang lebih menggetarkan selain melihat anak terbaring tanpa daya.
Di ruang IGD, cahaya lampu terasa begitu terang, namun hati kami justru dipenuhi kegelisahan. Jarum infus terpasang di tangan kecilnya. Tangisnya pelan, seolah meminta kami untuk tidak pergi jauh. Kami hanya bisa menggenggam tangannya, membisikkan doa-doa terbaik, berharap setiap tetes cairan yang masuk menjadi penawar bagi tubuh mungilnya.
Sebagai ayah dan ibu, malam itu kami belajar kembali tentang arti ketidakberdayaan dan kepasrahan. Betapa rapuhnya manusia, dan betapa besar kuasa Tuhan dalam setiap helaan napas. Di sela suara alat medis dan langkah para perawat, kami terus menatap wajahnya—wajah yang selalu menjadi sumber tawa di rumah kami.
Alhamdulillah, 16 Pebruari 2026 pagi pun datang membawa kabar yang menenangkan. Dokter menyampaikan bahwa kondisi JunJun berangsur membaik dan hari ini ia sudah diperbolehkan pulang. Kalimat sederhana itu terasa seperti pelukan hangat setelah malam yang dingin dan panjang. Rasa syukur kami tak terhingga.
JunJun mungkin belum mengerti apa yang terjadi semalam. Namun bagi kami, orang tuanya, itu adalah pengingat bahwa setiap detik kebersamaan adalah anugerah. Kesehatan adalah nikmat yang sering kita anggap biasa, sampai kita hampir kehilangannya.
Hari ini kami pulang dengan hati yang lebih lembut, lebih penuh syukur, dan lebih kuat dalam harapan. Semoga JunJun tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat, dan penuh kebaikan. Semoga setiap ujian kecil yang ia alami menjadi bagian dari perjalanan menuju masa depan yang cerah.
Terima kasih ya Allah atas perlindungan-Mu.
Terima kasih kepada dokter dan perawat yang telah merawat buah hati kami dengan penuh kasih.
Dan untuk JunJun, anak bungsu kami tercinta—
Tetaplah tersenyum.
Karena senyummu adalah doa yang hidup bagi keluarga kita. 🌿
By Aldy Forester.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;