Senin, 25 Agustus 2025

Momen Pengukuhan Mahasiswa Baru Polbangtan Malang Tahun 2025

Tanggal 25 Agustus 2025 akan selalu menjadi salah satu tanggal paling berharga dalam hidup saya. Dari Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, saya melangkahkan kaki menuju Malang dengan satu tujuan menyaksikan pengukuhan anak saya sebagai mahasiswa baru di Politeknik Pembangunan Pertanian Malang.

Hari itu bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah puncak dari sebuah perjalanan panjang—perjalanan anak-anak kami yang telah melewati Mabidama selama kurang lebih 25 hari dengan segala disiplin, tantangan, dan proses pembentukan karakter. Sebagai orang tua, tentu ada rasa bangga yang sulit diungkapkan dengan kata-kata ketika akhirnya melihat mereka berdiri tegap, resmi dilantik dan dikukuhkan sebagai mahasiswa.

Perasaan saya bercampur aduk: bahagia, haru, dan penuh syukur. Bahagia karena doa-doa kami terjawab. Haru karena menyadari bahwa anak kami kini melangkah ke fase baru kehidupan—lebih dewasa, lebih mandiri, dan siap mengabdi di bidang pertanian pembangunan bangsa.

Momen yang paling menyentuh hati adalah ketika anak-anak tidak mengetahui kehadiran orang tuanya. Wajah terkejut mereka, senyum yang tiba-tiba merekah, dan mata yang berkaca-kaca saat akhirnya bertemu—itulah kebahagiaan yang tak bisa dibeli dengan apa pun. Jarak Larantuka–Malang seolah tak berarti apa-apa dibandingkan rasa rindu dan cinta yang terbayar lunas pada hari itu.

Bagi saya, hari pengukuhan ini bukan hanya tentang status mahasiswa baru. Ini adalah tentang proses, ketekunan, pengorbanan, dan ikatan orang tua–anak yang semakin kuat. Sebuah pengingat bahwa setiap langkah kecil yang dilalui dengan sungguh-sungguh akan bermuara pada momen besar yang penuh makna.

Terima kasih ya Allah, atas hari yang indah ini. Semoga langkah anak-anak kami ke depan selalu diberkati dan membawa manfaat bagi banyak orang. Aamiin.

By. Aldy Forester

Kupersembahkan puisi untuk anak saya Rizqyah Forestryani dan seluruh Mahasiswa Baru Polbangtan Malang yang telah dikukuhkan pada hari ini.

Dari Jarak Menjadi Pelukan

Dari timur matahari terbit,
kami berangkat membawa doa,
menyusuri jarak, menembus rindu,
demi satu hari yang telah lama kami tunggu.

Dua puluh lima hari kalian ditempa,
dalam sunyi disiplin dan peluh perjuangan,
kami hanya bisa menyebut nama kalian
dalam sujud dan harapan setiap malam.

Hari itu kalian berdiri tegap,
bukan lagi anak-anak yang kami lepas,
melainkan tunas harapan bangsa
yang siap tumbuh dan mengabdi dengan ilmu.

Dan ketika mata kalian mencari-cari,
tanpa tahu kami telah ada di sana,
pertemuan itu bukan sekadar tatap muka,
melainkan rindu yang akhirnya menemukan rumahnya.

Air mata jatuh tanpa diminta,
bukan karena sedih,
melainkan karena bahagia
yang terlalu penuh untuk ditahan.

 
;