Senin, 23 Desember 2013

Kasih Sayang Seorang Ibu

Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.
Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.
Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.
Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, “Dari mana saja seharian ini?”
Sebagai balasannya, kau jawab, “Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!”
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan. Sebagai balasannya, kau katakan, “Aku tidak ingin seperti Ibu.”
Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.
Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan.
Sebagai balasannya, kau mengeluh, “Bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?”
Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai pernikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.
Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya,”Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!”
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat. Sebagai balasannya, kau jawab, “Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu.”
Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.

JIKA BELIAU MASIH ADA, JANGAN LUPA MEMBERIKAN KASIH SAYANGMU LEBIH DARI YANG PERNAH KAU BERIKAN SELAMA INI DAN JIKA BELIAU SUDAH TIADA, INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU


Link : Aldyforester

Minggu, 22 Desember 2013

Untukmu Mama Tersayang

Sejenak kutermenung dan teringat kembali sosok Mama yang kini sudah tiada. Sedih rasanya jika mengingat hari-hari terakhir kepergiaan Mama. Tidak terasa sudah 4 bulan Mama pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Mama pergi meninggalkan seorang anak semata wayang (gue) dan 4 orang cucu-cucunya. Entah kenapa hari ini aku kembali menitikkan air mata ketika terlintas wajah ibu yang sangat aku sayangi (mungkin karena bertepatan dengan Hari Ibu..??)
Satu hal yang patut saya banggakan, perjuangan Mama begitu besar. Mama telah menjadi single parent sejak saya berumur 3 tahun karena ditinggal Papa menghadap kehadirat-Nya. Perjuangan Mama juga masih saya rasakan begitu kuatnya ketika beliau harus berjuang keras melawan penyakitnya. Namun, Tuhan berkendak lain dan kembali harus memanggil Mama menghadap kehadirat-Nya. Walaupun kini Mama sudah tiada, tapi Mama akan selalu ada disetiap desah nafasku.
Saya teringat dengan satu keinginan, kalau nanti tahun 2016 ketika saya selesai menamatkan kuliah, saya akan mengajak Mama untuk bersama-sama merayakannya. Itulah satu harapan yang tidak akan pernah terwujud. Tapi saya yakin, Mama akan hadir pada saat itu.
Harapan itu juga yang saya bisikkan ke telinga Mama, ketika beliau sedang menunggu hari-hari terakhirnya. Saya hanya berbisik "Mama...Mama harus kuat, Mama pasti akan sembuh dan saya sudah berjanji kalau nanti Mama akan hadir di acara wisuda saya". Entah apa yang ada dibenak saya saat itu, mungkin dengan kalimat itu saya berharap Mama bisa tetap semangat dan berjuang melawan penyakitnya.

Mama.....maafkan anakmu ini karena belum bisa memberikan sesuatu yang lebih buat Mama. Saya hanya berdoa semoga Mama mendapatkan tempat yang layak disisi-Nya. Saya persembahkan puisi ini buat Mamaku tersayang yang ada di alam sana.

Mama...Tak terbiasa aku hidup tanpamu
Sepi rasanya dunia ini tanpa hadirmu
Termenung sendiri mengingat canda tawamu
Mengingat semua keluh kesahmu

Tak ada kata lain selain rindu untukmu
Merindumu adalah makanan sehari-hariku
Menangis kala ku ingat senyum manis mu
Sedih rasanya hati ini mengingat tingkah lakuku

Disini aku kan selalu berdoa untukmu
Berdoa supaya engkau ada disisi-Nya
Di tempat yang paling indah disana
Selalu akan ku doakan yang terbaik

Ku mencintaimu ibu
Selalu mencintaimu
Tersimpan kokoh dalam hati
Tak akan pernah terganti
 
;